Pelajar Kalsel Dibekali Literasi Digital untuk Cegah Hoaks

Suasana sosialisasi literasi digital yang membahas upaya menangkal hoaks dan paham radikalisme di media sosial bagi pelajar (Foto: MC Kalsel)

BANJARBARU – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kalimantan Selatan mengajak para pelajar untuk menjadi generasi digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial maupun gim daring guna mencegah penyebaran hoaks serta paham radikalisme.

Ajakan tersebut disampaikan Kasubbid Penanganan Konflik Bidang Kewaspadaan Nasional Bakesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan, Israjudin, saat menjadi narasumber pada sosialisasi bertema “Generasi Digital Cerdas: Menangkal Hoaks dan Radikalisme di Media Sosial” yang digelar di Aula Basamaan Inspektorat Banjarbaru, Senin, (20/7/2026).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut meningkatnya penyebaran propaganda radikalisme melalui ruang digital yang menyasar kalangan remaja. Ini diikuti 48 peserta yang berasal dari 16 sekolah, dengan masing-masing sekolah mengirimkan dua siswa dan satu guru Bimbingan Konseling (BK).

Sosialisasi juga menghadirkan narasumber dari Densus 88 Antiteror Polri serta Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan.

Israjudin mengatakan, media sosial dan gim daring kini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang interaksi digital yang berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan informasi palsu maupun paham ekstrem kepada generasi muda.

“Generasi muda harus memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, karena hoaks sering dibuat untuk memancing emosi dan mendorong orang menyebarkannya tanpa berpikir panjang,” ujar Israjudin melansir dari MC Kalsel.

Ia menjelaskan, peserta juga diberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk hoaks, mulai dari pesan berantai, akun palsu, rekayasa foto, video, hingga konten berbasis kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, para pelajar diajak memahami pentingnya melakukan verifikasi informasi dengan memeriksa kredibilitas sumber, membandingkan dengan informasi resmi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Menurut Israjudin, pemahaman terhadap ciri-ciri radikalisme juga penting agar pelajar mampu mengenali sejak dini berbagai bentuk penyebaran paham ekstrem di ruang digital, termasuk upaya membangun kebencian, memecah belah masyarakat, hingga membenarkan tindakan kekerasan.

Ia menambahkan, apabila menemukan aktivitas mencurigakan di media sosial maupun gim daring, pelajar diimbau menghentikan interaksi, menyimpan bukti, melaporkan kepada orang tua atau guru, serta memanfaatkan fitur blokir dan pelaporan pada platform digital.

“Harapan kami, para peserta dapat menjadi agen literasi digital di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga mampu mengedukasi teman-temannya untuk bijak bermedia sosial dan tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun paham radikal,” kata Israjudin.(kabarpilihan)

Penulis Akhmad
Editor Akhmad

Artikel Lainnya

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Scroll to Top